Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Belajar Dari Janur

Belajar Dari Janur

Tulisan ini sekedar lintasan pikiran saya ketika ingat banyak ketupat, di Bakdan Kupat kemarin.
Di sebut Janur karena jene manggone ono ing nduwur. Jene artinya kuning, warna alami janur.
Janur di struktur bangunan pohon kelapa, terletak paling atas dalam satu satuan, dan selalu menghadap ke atas. Pelajarannya, puncak dari segalanya adalah Tauhid. Laa ilaha illallah. Biasanya kita membayangkan Allah Taala, Tuhan semua manusia, ada di atas. Dalam urusan ubudiyah ini, kita semua menjadi satu satuan. Orang orang beriman itu bersaudara.
Untuk mendapatkan janur, kita harus bersusah payah. Memanjat pokok kelapa, melewati rangkaian dahan kelapa, dan kadang ada banyak serangga menghadang. Demikianlah urusan Tauhid, urusan Iman. Iman tidak di dapat ujug ujug. Butuh upaya. Bahkan kadang upaya kita mendapat banyak halangan. Hanya orang orang yang punya keyakinan dan tekad kuat yang memperoleh janur. Memperoleh iman yang lurus.
Untuk menjadi sesuatu yang fungsional, sesuatu yang bermanfaat, janur harus di rangkai oleh tangan tangan terampil, menjadi kupat. Pelajarannya, iman dalam diri kita harusnya menjadi sesuatu yang fungsional, aplikatif, dan bermanfaat. Untuk menjadi bermanfaat ini, kita semua perlu saling menjalin tangan, bahu membahu, membentuk jalinan. Dalam bahasa al Quran ini di sebut 'ba'dhuhum auliyaa u ba'dh' QS 9:71. Untuk membentuk jalinan ini, kita semua butuh pengetahuan dan ketrampilan. Agama menjadi hidup di tengah masyarakat karena saling belajar, saling berbagi, saling bahu membahu. Anda baru bisa membuat ketupat apabila belajar langsung dari yang sudah bisa, dan harus mempraktekkan. Itulah agama, agama bukan angan angan. Agama adalah praktek nyata.
Kupat harus di isi. Demikianlah agama dan diri kita. Kupat yang nikmat, yang membuat nyaman adalah kupat yang berisi dan cukup matang. Dan semua orang akan senang. Semua di mulai dari berisi dan matang.
Dan sepotong kupat yang terhidang adalah sebuah pelajaran panjang.

Karubaga Tolikara (2)

Karubaga Tolikara (2)

Saya mencoba mencari di peta google Karubaga. Memang muncul kata Karubaga Papua, tapi daerah di peta yang di tunjukkan, namanya nihil. Daerah terdekat yang bernama adalah Tiom. Ini ya daerah apalagi...
Karubaga Tolikara kemudian saya cari di kamus wiki, informasi agak jelas, bahkan ada satu dua foto kota Karubaga.
Sekilas, kabupaten ini memang elok betul. Jauh di pedalaman Papua. Terselip di antara jajaran pegunungan. Tidak ada akses darat menuju kota ini. Akses terdekat adalah transportasi udara, 20 menit dari Wamena. Kalau nama Wamena ini, agak akrab di telinga saya. Foto tentang Karubaga dari jauh lebih elok lagi, kota ini seakan berdiri di tepian tepian tebing.
Membayangkan Karubaga Tolikara, saya jadi respek ke saudara saudara kaum muslimin di sana. Ini kota doh lor doh kidul, adoh ratu cedhak watu. Saya ya jadi membatin, yang pertama kali punya ide datang ke kota ini, jelas superhero kelas wahid. Bangsanya supermen betmen minggir dah...
Saya juga mencoba memahami proses adigang adigung adiguno nya sekelompok orang di sana, yang membawa semangat intoleran. Yang rumangsanya semua harus manut mau nya. Yang merasa dengan membuat sebuah organisasi agama, mereka berkuasa mengijinkan dan menolak kegiatan keagamaan orang lain. Kalau di Jawa kita bisa bilang, ' ellhoh, opo iki negarane mbahmu po? ' Tapi saya ya sadar, Karubaga Tolikara ini bukan jawa. Yang bahkan seorang yang sinis pun kewalik walik menyebutkan, Torikala...
Dan saya merasa gagal paham.

Karubaga Tolikara

Karubaga Tolikara

Saya mengernyitkan dahi dua kali. Pertama, tak habis pikir, kok ya ada orang yang kepikiran merusak suasana khusyuk sholat ied, sambil berharap puasanya di terima Allah Taala. Kedua, ini daerah Papua sebelah mana lagi. Tapi saya tahu, saya ini memang awam soal geografi Papua, yang luasnya berlipat lipat pulau Jawa.
Membaca berita Tolikara, setiap orang pasti punya kesimpulan dan bayangan beragam. Simplifikasi simplifikasi sangat mungkin dan mudah terjadi, mudah.
Agar bayangan dan simplifikasi tidak berkepanjangan, aparat pemerintah harus bertindak cepat.
Satu lagi, kita tidak usah takut dengan Sara. Kalau memang itu kenyataanya, ya sudah tho. Kita selesaikan bersama. Kita itu sudah ribuan tahun hidup dalam keanekaragaman.
Kita tak perlu menghindari persoalan dengan menutup mata. Ada bahaya di depan kita, langkah paling mudah adalah menutup mata. Tapi itu kan tidak menyelesaikan persoalan, malah membuat kita celaka.
Selamat bekerja pak bu pemerintah. Tidak ada hari libur untuk kasus semacam Tolikara.

Belajar dari Pak Soto


Kemarin adalah hari berkesan buat saya, Allah Taala banyak sekali memberikan pelajaran hidup.
Sore kemarin saya di undang buka puasa di salah satu warung soto terkenal di kota Solo. Bukannya warung soto buka pagi? Betul. Kemarin warung sotonya buka hanya khusus untuk buka puasa bersama. Sampai ada pelanggan yang ikut masuk, di kira jualan sore. Mohon maaf bapak, warungnya tidak melayani pembeli.
Alhamdulillah saya sempat jagongan dengan bapak pemilik warung. Pak Soto, begitu sajalah namanya. Saya melihat bapak yang tadi mengira warung sotonya buka, jadi bertanya. 'Kok mboten bikak sonten pak? Pelanggane njenengan kan remen, menawi sonten bikak.' Lha itu pikiran saya, yang sok bisnis oriented. Kayak yak yak o, melihat peluang pasar.
Jawaban Pak Soto mengejutkan saya, 'Mboten mas, dalu kagem ngibadah kemawon...' Mak dieegg...Wah...kena nih.
Pelajaran berharga sodara sodara. Peluang bisnis, uang, keuntungan bukan segalanya. Kita yang baru tahu sedumil tentang bisnis, kadang kita sok. Sok tahu tentang peluang bisnis, perputaran uang, nilai keuntungan bla bla bla. Pak Soto jualan soto mulai dari generasi orang tuanya, entah sudah berapa puluh tahun itu.
Pak Soto implisit mengajarkan agar kita tidak kemaruk. Serakah. Dan itulah problem banyak orang saat ini. Kemaruk bin serakah.
Ah...jangan jangan teori ekonomi kita selama ini salah...teori yang hanya menghasilkan manusia kemaruk. Miskin dimensi spiritual. Jauh dari agama.
Naudzubillah.

Belajar Dari Batu


Sebagai penggemar batu kelas pemula bin cekeremes, saya itu ya senang kalau melihat koleksi batu permata punya nya teman teman. Kelas saya ya itu, gemar melihat. Syukur syukur kalau di pinjami, atau di hadiahi.
Kapan hari, ada teman yang meminjami saya sebutir batu indah. Namanya king safir. Biru cerah bersinar. Saya ya merasa, wah elok betul ini batu. Ciamik, hebat.
Kata teman yang meminjami, ' bawa saja mas, kalau tertarik silakan di bayar dengan harga sesukanya '. Elok betul lagi ini, harga kok sesukanya. Teori ekonomi mungkin sulit menjelaskan katagori harga jenis ini.
Singkat cerita, king safir itu saya bawa ke teman lain, yang memang pakar batu safir betulan. Setelah di cek, komentarnya mengejutkan. Ini safir imitasi, bukan safir alam. Weh...elok lagi ini...bagusnya kayak begitu, kok ternyata imitasi. Saya jadi dapat pelajaran hidup berharga.
Pertama, penampilan sekilas kadang menipu. Karena kesan gemerlap yang kita lihat, kadang kita menyangka sesuatu itu hebat. Ujian dan waktu yang kemudian akan membuktikan.
Kedua, natural dan imitasi itu jelas berbeda. Proses alam yang keras dan panjang akan berdampak pada kualitas. Sebaliknya, proses instan, walaupun terlihat gemerlap, akan menghasilkan cacat permanen. Cacat ini laten, tersembunyi. Hanya di ketahui oleh ahlinya.
Ketiga, harapan yang terlalu besar, apalagi melibatkan emosi kita, setelah kita tahu semua itu imitasi, hasilnya adalah kecewa dan sakit hati.
Mungkin ini pelajaran hidup yang di berikan Allah Taala lewat sebutir batu indah ciamik berwarna biru. King safir.
Terima kasih kepada teman teman perbatuan. Ternyata banyak pelajaran di sana.