Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan

Tertawa

Tertawa

Salah satu karunia unik yang dimiliki manusia, adalah tertawa. Tertawanya manusia ini mengungkapkan berbagai ekspresi.
Bisa jadi ekspresi kita tergelilik karena ada hal yang lucu. Ini yang saya kira paling banyak.
Bisa jadi karena ekspresi rasa senang kita. Binatang punya ekspresi senang. Kucing atau anjing mengekspresikan rasa senangnya dengan ndusel ndusel tuannya. Tapi tetap saja mereka tidak bisa tertawa.
Bisa jadi tertawa itu di tangkap orang sebagai mengece, menghina. Lha ini yang kita semua perlu hati hati.
Tertawa akan jadi masalah kalau salah papan empan. Salah waktu, salah tempat, salah situasi, salah berhadapan dengan siapa.
Ekspresi kita akan selalu di tangkap orang lain, dan mungkin kadang di salah pahami. Termasuk tertawa.
Saya ini cuma usul ke pak presiden kita, mohon dengan hormat pak, kalau tertawa memperhatikan sikon. Karena pak pres ini karakter awalnya memang sumeh.
Matur nuwun. Saya tidak ngece atau menghina. Sekedar usul saja, di terima alhamdulillah, kalau tidak ya sudah.

Munyuk

Munyuk

Orang Jawa memang kaya bahasa. Sebuah benda, bisa mempunyai bermacam nama. Bisa jadi sedikit berbeda bentuknya, atau bahkan sama, tapi kaya nama. Alat pemotong, pisau besar, namanya bisa arit, bendho, mothik, clurit.
Lha ini sama untuk urusan hewan. Kewan cilik beda nama dengan hewan besar. Kuthuk dan pitik. Belo dan jaran. Gudel dan kebo. Gogor dan macan. Sawiyah dan cecak. Semua sama, hanya berbeda kecil dan besar.
Saya curiga, jenis hewan tertentu mempunyai nama nama yang rasanya berbau 'mingsuh'. Padahal kalau di gagas, mereka ini ndak punya salah apa apa.
Contohnya kera. Boso kromo hewan ini sungguh berwibawa, wanara. Tapi boso rakyat jelatanya terasa mengenaskan. Kethek, monyet, dan lebih mengenaskan lagi, munyuk. Saya ya kurang tau, apakah penamaan ini berkait dengan urusan olok olok.
Yang jelas, mantap betul kok mengolok dengan sebutan di atas.
Saya kira, kita wong Jawa itu kontradiktif. Satu sisi alus betul, dan bisa sebaliknya. Kita menyebut gigi yang bagus sebagai 'miji timun'. Alis yang bagus sebagai 'nanggal sepisan'. Sebaliknya, kita bisa ngunek unekke orang, 'woo...untumu njepat'.
Ellhoh...kejadian yang mengerikan, malah kita gunakan untuk ngunek unekke uwong.
Saya pikir ini pelajaran berharga bagi kita orang Jawa. Kita di ajari melihat sisi sisi diri kita, dari pilihan kosa kata yang kita gunakan. Inilah pesan 'ajining diri ono ing lathi'.
Kita memang perlu melatih diri terus menerus untuk menjadi orang yang 'njawani'. Jangan sampai menjadi wong Jowo sing kelangan Jawane.
Wah...kok jadi mbulet begini...

Mem-Bully

Mem-Bully

Saya kurang tau, membully itu dari kata apa. Apakah bull? Kerbau. Di istilahkan bully karena kerbau itu selalu menunduk. Membully orang agar ia tertunduk. Mungkin malu, atau tertekan, atau ketakutan.
Saya lebih memahami kata mengenyek atau mengece dalam bahasa Jawa. Ngenyek. Ngece.
Ngenyek itu saya merasakan nuansanya cenderung pada mengeksploitasi kelemahan atau kondisi orang lain. Kalau ngece, saya merasa ini kok berkaitan dengan hasil kerja, hasil karya orang.
Bully membully, enyek mengenyek, ece mengece ini tampaknya memang memuaskan. Apalagi kalau kita lagi di atas angin. Apalagi kalau pada dasarnya kita ada kebencian atau tidak suka pada yang kita ece.
Dunia medsos kita kadang membuat kita apabila berkomentar, atau memposting sesuatu, kita tidak berfikir panjang. Tampaknya bagus, menyenangkan, upload saja.
Kadang kita lupa, pertama, diri kita punya ego. Bahasa agamanya al hawaa. Dan kita ya harus ingat, ada setan yang selalu ngipas ngipasi. Membuat sesuatu yang buruk, menjadi seolah baik.
Kedua, kadang kita lupa, enyekan atau ecean kita membuat jarak dengan yang kita enyek, yang kita ece. Dan yang muncul hanya pertengkaran. Padudon. Bagaimana kita mau mengajak orang pada yang baik, apabila sebelumnya kita sudah membuat jarak dan luka hati.
Ada teladan dari Umar ra. Umar ra mengganti Khalid ra dengan Abu Ubaidah ra sebagai panglima kaum muslimin di Syam. Alasan Umar ra, 'saya mengasihani jiwa jiwa manusia karena kecepatan pedang Khalid'. Dalam bahasa kita, agar korban di pihak musuh ndak banyak. Agar mengurangi dendam di hati musuh. Kelak musuh kaum muslimin itu akhirnya sebagian menjadi penghela agama yang menghasung agama Allah Taala di bumi yang lebih luas.
Ini pula teladan para Walisongo, kita ingat sampai saat ini kita sulit menemukan, bahkan tidak ada orang menyembelih sapi di Kudus. Mereka menyembelih kerbau. Karena dulunya Kudus ini konon bernama Tajug. Kota peribadatan Hindu. Dan kita tau, kemudian hari orang orang Kudus adalah penghela agama di banyak tempat.
Kita sudahi saja enyek mengenyek, ece mengece.
Beda kritik dengan membully pertama kali ada di hati kita. Niat dalam hati kita.
Mohon maaf kalau saya pernah membully. Saya salah.

BPJS

BPJS

Hari hari ini banyak diskusi tentang BPJS. BPJS jadi trending topic netizen. Bahkan kalau ngetik di google BPJS, segera muncul BPJS haram dll. Nah lho...
Terlepas dari pro kontra kajian para ulama di MUI, saya lihat ada hal positif.
Pertama, konsideran syariat dalam pengambilan keputusan. Kebijakan publik yang menyangkut kepentingan rakyat banyak.
Bahwa mayoritas rakyat beragama Islam, itu realitas. Bahwa mayoritas rakyat membutuhkan melaksanakan kewajiban syariat agamanya, juga adalah realitas. Sehingga, kebijakan publikpun, perlu memperhatikan aspek syariat ini.
Kedua, bahwa pelaksanaan aspek aspek syariat akan membutuhkan banyak ahli. Kaum ekspert. Ini berita baik. Ahli ekonomi syariah, asuransi syariah, dan mungkin banyak hal lagi kedepan yang kita butuhkan.
Saatnya ummat Islam berkontribusi.
Saya pikir ini PR yang bagus bagi para pengambil kebijakan publik, para konsultan, CEO BPJS, dan lain lain. Bila selama ini hanya copy paste dengan penambahan varian sistem asuransi publik, dari negara barat. Sekarang harus di tambah lagi. Aspek syariat.
Saya pikir kita perlu menyambut baik diskusi diskusi ini. Ndak usah ikut mumet. Biar para ahlinya saja yang mumet.

Adaptasi


Saya kira pengertian adaptasi ini cukup jelas, walaupun bahasa serapan, pemakaiannya sudah sangat umum.
Kita manusia, mempunyai kemampuan adaptasi sangat baik. Bagi yang pns pemkot, barangkali pertama dua tiga kali memakai pakaian adat risih, lama lama nyaman juga. Inilah adaptasi.
Dulu beli bakso 10.000 glindingannya besar besar. Puas rasanya kita beli, kita menyebut cucuk sama harganya. Berhubung harga daging naik, harga jual baksonya tidak naik, maka ukuran glindingan berkurang. Kita walaupun merasa kurang nyaman, kita tetep beli dan menikmati bakso. Itulah adaptasi.
Saya khawatir urusan adaptasi ini meliputi diri kita semua, hari ini dan besok.
Harga harga makin mahal, dollar terus merangkak naik, kualitas hidup kita menurun, bla bla bla. Karena proses adaptasi, pertama dua tiga kali kita tak merasa nyaman. Selanjutnya kita beradaptasi. Paling kata sakti ini yang keluar, ' ya sudahlah, meh piye maneh...'
Betul memang, dengan adaptasi kita bisa bertahan. Dengan adaptasi kita bisa menjaga eksistensi hidup kita.
Tapi tidak berarti kita menyerah. Ketika kabut asap pembakaran hutan meliputi kota anda, anda mungkin bisa beradaptasi. Tapi kebakaran hutan tetap saja harus di hentikan.
Usul saya, kita tetap beradaptasi, karena memang kita tangguh di sana. Tapi anomali tetap harus di koreksi.
Sopo sing salah, kudu seleh. Begitu kata bijak orang Jawa, untuk mengoreksi anomali.
Mungkin banyak kata bijak lain. Dan menurut saya, jangan terlalu percaya kita mampu terus menerus beradaptasi. Suatu saat mbledos juga.
Saat itulah krisis menerpa kita semua.
Mohon maaf bila tulisan saya agak sulit di pahami. Ini bahasa implisit.